Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu โ hadits singkat namun padat makna tentang larangan marah yang merupakan intisari akhlak Islam. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Marah dapat menghilangkan akal sehat, mendorong seseorang melakukan hal-hal yang disesali kemudian, merusak hubungan sosial, dan menjadi pangkal berbagai keburukan. Rasulullah bersabda: "Marah itu bara api dari setan." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
| Tingkatan | Sikap | Dampak |
|---|---|---|
| Marah Terpuji | Marah karena Allah (ghirah), saat melihat kemungkaran, membela kebenaran. | Menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, membela agama. |
| Marah Tercela | Marah karena hawa nafsu, dendam, atau kepentingan pribadi. | Menghilangkan akal, mengucapkan kata-kata kotor, berbuat zalim, merusak hubungan. |
| Marah yang Dimaklumi | Manusiawi, terjadi namun segera dikendalikan dan diredam. | Jika ditahan, mendapat pahala besar dari Allah. |
Saat marah, seseorang cenderung mengucapkan perkataan yang tidak bermanfaat bahkan berbahaya. Menahan marah membantu seseorang untuk meninggalkan perkataan sia-sia dan menjaga lisannya.
Marah bisa menyebabkan seseorang menyakiti tetangga dan mengucapkan kata-kata buruk. Menahan marah adalah pintu untuk bisa berkata baik atau diam serta memuliakan tetangga.
Hadits ini mengajarkan bahwa menahan amarah adalah wasiat utama Rasulullah karena mengandung intisari kebaikan. Marah yang tidak terkendali adalah pangkal berbagai keburukan โ darinya lahir permusuhan, pertengkaran, bahkan kezaliman. Sebaliknya, menahan marah adalah ciri orang bertakwa dan mendapat pahala besar di sisi Allah. Seorang muslim hendaknya melatih diri untuk mengendalikan amarah dengan berbagai cara yang diajarkan dalam sunnah: membaca ta'awudz, diam, mengubah posisi, dan mengambil wudhu. Dengan demikian, ia akan meraih ketenangan hidup dan ridha Allah.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang menahan amarah, pemaaf, dan dicintai oleh-Mu. Aamiin.