Serial Hadits Pilihan | Bagian 16

๐Ÿ“– Hadits Keenambelas: Jangan Marah!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu โ€” hadits singkat namun padat makna tentang larangan marah yang merupakan intisari akhlak Islam. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

ู†ุต ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุดุฑูŠู

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: ุฃูŽูˆู’ุตูู†ููŠ. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ยป. ููŽุฑูŽุฏูŽู‘ุฏูŽ ู…ูุฑูŽุงุฑู‹ุง. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ยป.
Terjemahan Indonesia:
โ€œDari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi ๏ทบ: 'Berilah aku wasiat.' Beliau bersabda: 'Jangan marah.' Laki-laki itu mengulang permintaannya beberapa kali. Beliau tetap bersabda: 'Jangan marah.'โ€ (HR. Bukhari)
Kosa kata: ๐Ÿ“– ุฃูŽูˆู’ุตูู†ููŠ : berilah aku wasiat / nasihat ๐Ÿ“– ู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ : jangan marah ๐Ÿ“– ููŽุฑูŽุฏูŽู‘ุฏูŽ ู…ูุฑูŽุงุฑู‹ุง : ia mengulang beberapa kali

Mengapa "Jangan Marah" Menjadi Wasiat Utama?

๐Ÿ’ก Insight Utama: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah meminta wasiat yang ringkas namun mencakup banyak kebaikan. Rasulullah menjawab dengan satu kalimat: "ู„ุงูŽ ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’" (Jangan marah). Laki-laki itu mengulang permintaannya beberapa kali, dan setiap kali Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa menahan amarah adalah kunci utama keselamatan dalam beragama dan bergaul dengan sesama. Marah adalah pangkal banyak keburukan โ€” darinya lahir permusuhan, pertengkaran, bahkan pembunuhan.

Bahaya Kemarahan

Marah dapat menghilangkan akal sehat, mendorong seseorang melakukan hal-hal yang disesali kemudian, merusak hubungan sosial, dan menjadi pangkal berbagai keburukan. Rasulullah bersabda: "Marah itu bara api dari setan." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Tips Mengendalikan Marah (Menurut Sunnah)

  • Membaca ta'awudz: ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู…ู (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).
  • Diam โ€” jangan berbicara saat marah.
  • Mengubah posisi: jika berdiri, duduk; jika duduk, berbaring.
  • Mengambil wudhu atau mandi, karena api kemarahan bisa dipadamkan dengan air.
  • Mengingat pahala orang yang menahan marah โ€” Allah menjanjikan surga bagi mereka.
  • Meninggalkan situasi yang memicu kemarahan (pergi dari tempat itu).

Tingkatan Marah & Dampaknya

TingkatanSikapDampak
Marah Terpuji Marah karena Allah (ghirah), saat melihat kemungkaran, membela kebenaran. Menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, membela agama.
Marah Tercela Marah karena hawa nafsu, dendam, atau kepentingan pribadi. Menghilangkan akal, mengucapkan kata-kata kotor, berbuat zalim, merusak hubungan.
Marah yang Dimaklumi Manusiawi, terjadi namun segera dikendalikan dan diredam. Jika ditahan, mendapat pahala besar dari Allah.
Keutamaan Menahan Marah: Rasulullah bersabda: "Barangsiapa menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat untuk memilihkan baginya bidadari yang ia sukai." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, hasan)

Kandungan & Pelajaran Penting

Keterkaitan dengan Hadits Sebelumnya

Hadits Ke-12 (Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat)

Saat marah, seseorang cenderung mengucapkan perkataan yang tidak bermanfaat bahkan berbahaya. Menahan marah membantu seseorang untuk meninggalkan perkataan sia-sia dan menjaga lisannya.

Hadits Ke-15 (Jaga Lisan & Hormati Tetangga)

Marah bisa menyebabkan seseorang menyakiti tetangga dan mengucapkan kata-kata buruk. Menahan marah adalah pintu untuk bisa berkata baik atau diam serta memuliakan tetangga.

Tema-Tema dalam Al-Qur'an

๐Ÿ“– Meninggalkan sifat pemarah & orang bertakwa:
QS. Ali Imran 3:134 (orang yang menahan marah dan memaafkan), QS. Ali Imran 3:159 (lemah lembut bukan keras hati)
๐Ÿ“– Larangan marah berlebihan & anjuran bersabar:
QS. Fussilat 41:34 (tolak kejahatan dengan kebaikan), QS. Asy-Syura 42:37 (menjauhi dosa besar dan kemungkaran, serta menahan marah)

Tips Menghadapi Orang yang Sedang Marah

  • Diam โ€” jangan membalas kemarahan dengan kemarahan.
  • Bersikap lembut โ€” Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya."
  • Berikan waktu โ€” biarkan orang yang marah "mendingin" terlebih dahulu.
  • Jangan memprovokasi โ€” hindari kata-kata atau tindakan yang memperparah kemarahan.
  • Doakan kebaikan โ€” minta kepada Allah agar ditenangkan hatinya.

Tanya Jawab Seputar Hadits Larangan Marah

Tidak semua marah dilarang. Marah karena Allah โ€” ketika melihat kemungkaran atau kezaliman โ€” adalah terpuji dan termasuk ghirah (cemburu karena agama). Namun, tetap harus dikendalikan agar tidak melampaui batas. Yang dilarang dalam hadits ini adalah marah karena hawa nafsu dan kepentingan pribadi yang merusak akal dan hubungan.
Orang yang tidak pernah marah sama sekali โ€” bahkan saat melihat kemungkaran dan kezaliman โ€” bukanlah sifat terpuji. Yang terpuji adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya dan menyalurkannya pada tempat yang benar (marah karena Allah, bukan karena hawa nafsu).
Marah adalah naluri manusiawi, tidak berdosa selama tidak disertai tindakan atau ucapan yang melanggar syariat. Jika seseorang berusaha menahan marah (meskipun sangat berat), ia mendapat pahala besar. Jika marah memuncak hingga mengucapkan kata-kata kotor, menyakiti orang lain, atau merusak barang, maka itu berdosa dan harus bertaubat.
Pengulangan ini menunjukkan betapa pentingnya wasiat ini. Laki-laki itu mungkin mengharapkan wasiat yang lebih panjang atau berbeda, tetapi Rasulullah tetap menekankan inti dari segala kebaikan: mengendalikan marah. Sebab, marah adalah sumber banyak keburukan. Jika seseorang mampu menahan marah, ia akan mampu mengendalikan diri dari banyak dosa lainnya.

๐Ÿ“š Kesimpulan Hadits Keenambelas

Hadits ini mengajarkan bahwa menahan amarah adalah wasiat utama Rasulullah karena mengandung intisari kebaikan. Marah yang tidak terkendali adalah pangkal berbagai keburukan โ€” darinya lahir permusuhan, pertengkaran, bahkan kezaliman. Sebaliknya, menahan marah adalah ciri orang bertakwa dan mendapat pahala besar di sisi Allah. Seorang muslim hendaknya melatih diri untuk mengendalikan amarah dengan berbagai cara yang diajarkan dalam sunnah: membaca ta'awudz, diam, mengubah posisi, dan mengambil wudhu. Dengan demikian, ia akan meraih ketenangan hidup dan ridha Allah.

Berseri: Hadits Ketujuhbelas (Berbuat Baik & Hukum Qishash) akan dibahas pada bagian selanjutnya insya Allah.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang menahan amarah, pemaaf, dan dicintai oleh-Mu. Aamiin.