Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pembantu Rasulullah ๏ทบ โ hadits yang menjadi fondasi persaudaraan dalam Islam. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
| Aspek | Iman Sempurna | Iman Tidak Sempurna |
|---|---|---|
| Sikap terhadap saudara | Mencintai untuk saudara apa yang dicintai untuk diri sendiri | Egois, hanya mementingkan diri sendiri, tidak peduli pada saudara |
| Sikap terhadap kebaikan saudara | Senang dan bersyukur, tidak hasad (dengki) | Iri hati (hasad) ketika saudara mendapat kebaikan |
| Sikap terhadap kesulitan saudara | Tergerak untuk membantu dan mendoakan | Acuh tak acuh atau bahkan senang |
| Cakupan | Mencakup seluruh aspek kebaikan dunia dan akhirat | Terbatas hanya pada kepentingan pribadi |
Nasihat kepada sesama muslim (bagian dari "agama adalah nasihat") adalah perwujudan dari "mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri" โ karena kita tentu ingin dinasihati jika melakukan kesalahan.
Mencintai saudara juga berarti tidak menyakitinya dengan perkataan atau perbuatan yang tidak bermanfaat โ bahkan diam jika tidak bisa berkata baik.
Hadits ini adalah fondasi persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah). Seseorang tidak dianggap sempurna imannya hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri โ baik dalam hal kebaikan dunia maupun akhirat. Prinsip ini menghilangkan sifat egois, hasad, dan kedengkian, serta menumbuhkan solidaritas, kasih sayang, dan gotong royong di antara kaum muslimin. Seorang mukmin sejati akan senang jika saudaranya senang, dan bersedih jika saudaranya bersedih. Inilah cerminan iman yang hakiki.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang mencintai saudara-saudara kami sebagaimana mencintai diri kami sendiri, jauhkan kami dari hasad dan kedengkian, serta satukanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu. Aamiin.