Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu โ hadits yang menjadi tolok ukur kebaikan Islam seseorang: meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan lain-lain.
| Aspek | Contoh Tidak Bermanfaat | Dampak Negatif |
|---|---|---|
| Perkataan | Bicara kosong, dusta, ghibah, namimah (adu domba), mencela, berdebat tanpa ilmu | Mendatangkan dosa, menyakiti orang lain, membuang waktu |
| Perbuatan | Mengganggu orang lain, ikut campur urusan yang bukan haknya, berbuat iseng tanpa manfaat | Merusak hubungan sosial, mendapat kebencian, membuang energi |
| Pikiran & Perhatian | Overthinking terhadap masa depan yang belum tentu terjadi, sibuk dengan aib orang lain, was-was berlebihan | Kecemasan tidak perlu, stres, tidak produktif |
| Waktu | Menghabiskan waktu untuk hiburan yang tidak memberi manfaat (nonton berlebihan, main game berlebihan, tidur berlebihan) | Kehilangan kesempatan beramal, menyesal di akhirat |
Akan saya lakukan/ucapkan?
Bermanfaat?
โ Lakukan / Ucapkan
Tidak Bermanfaat?
โ Tinggalkan!
Prinsip ini jika diterapkan akan menyelamatkan seseorang dari banyak dosa dan penyesalan.
Hadits ke-6 (halal, haram, syubhat) dan ke-11 (meninggalkan yang meragukan) mengajarkan meninggalkan yang syubhat. Hadits ke-12 ini memperluas cakupan: tidak hanya syubhat, tetapi segala hal yang tidak bermanfaat โ baik halal sekalipun โ jika berlebihan dan tidak memberi manfaat, dianjurkan ditinggalkan.
Hadits ke-7 (agama adalah nasihat) dan ke-9 (kerjakan perintah semampu mungkin). Hadits ke-12 melengkapi dengan prinsip prioritas: fokus pada yang bermanfaat, tinggalkan yang tidak. Ini akan mengoptimalkan waktu dan tenaga seorang muslim.
Hadits ini adalah filter sempurna untuk kehidupan digital seorang muslim.
Hadits ini mengajarkan salah satu tanda kebaikan Islam seseorang: meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. Ini adalah filter hidup yang akan menyelamatkan seorang muslim dari banyak dosa, pemborosan waktu, dan energi yang sia-sia. Dengan menerapkan prinsip ini, seorang muslim akan fokus pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta meninggalkan segala sesuatu yang tidak memberikan nilai tambah bagi dunia dan akhiratnya. Inilah produktivitas versi Islam yang mengedepankan keberkahan waktu dan amal.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang baik Islamnya, yang meninggalkan hal-hal tidak bermanfaat, dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk ketaatan kepada-Mu. Aamiin.